Senin, 19 Oktober 2009

Suami Pindah Tugas, Istri Menjadi Pencemburu

Pertanyaan:
Kami adalah pasangan muda. Pada awalnya kehidupan rumah tangga kami bahagia, bahkan sangat bahagia. Dari sisi ekonomi, kami berkecukupan. Dan, kami baru dikaruniai seorang anak wanita berusia satu tahun.



Keruwetan mulai muncul tatkala suami saya berpindah tugas ke luar kota. Sejak kepindahannya itu intensitas hubungan kami sebagai pasangan suami-istri turun drastis. Suami saya pulang seminggu sekali pada akhir pekan, selama dua hari. Kembali pada Senin pagi, ketika tetangga masih terlelap.

Saya meyakini, suami saya seorang lelaki yang setia. Namun demikian, dengan semakin turunnya intensitas hubungan kami sebagai pasangan suami-istri, baik secara batiniyah maupun dhohiriyah, telah menimbulkan kekhawatiran dalam diri saya. Pada gilirannya, akhir-akhir ini saya menjadi semakin pencemburu. Buntutnya, saya sering berkata kasar padanya, bahkan kadang marah-marah yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Pada suatu malam saya membuka HP-nya. Bermaksud menyelidiki, barangkali ada informasi atau foto-foto mengenai perselingkuhan. Ternyata, tidak ada. Demikian pula pada laptopnya, hasilnya sama, tidak ada informasi atau foto-foto yang mencurigakan. Suami saya bahkan masih menyimpan foto-foto kami ketika masih pacaran, melangsungkan pernikahan hingga ketika saya bergulat dengan maut saat proses persalinan. Namun, meski demikian, hati ini koq masih khawatir.


Yang ingin saya tanyakan:
1) Apakah yang harus saya berbuat agar hati saya tenang dan semakin yakin bahwa suami saya adalah sosok pria yang dapat dipercaya dan tetap memegang teguh keagungan perkawinan?
2) Adakah teknik-teknik atau doa-doa yang mujarab, yang mampu menjaga hati saya sekaligus menjaga suami saya dari perselingkuhan?

Terima kasih atas jawaban pengasuh rubrik: Konsultasi Hukum “Supremasi”

N.N.
Surabaya

Jawaban:
Yth. N.N.
Persoalan yang Saudari hadapi termasuk katagori masalah ringan. Karena pusat persoalan itu tidak berada di luar diri, tetapi di dalam diri. Yang paling utama untuk dipahami, bahwa setiap “sesuatu” yang terjadi –positif atau negatif– selalu menarik “sesuatu” yang lain, sebagai efek domino. Coba Saudari renungkan pernyataan ini: Tanam pikiran, maka Anda panen perbuatan. Tanam perbuatan, maka Anda panen kebiasaan. Tanam kebiasaan, maka Anda memanen “apa” yang tertanam dalam pikiran Anda.

Selama ini Saudari telah menanam dalam pikiran, yaitu pikiran negatif yang bernama “kekhawatiran” suami melakukan selingkuh. Pikiran negatif itu telah melahirkan “perbuatan”, menyelidiki, guna mencari informasi atau foto-foto mengenai perselingkuhan, baik pada HP maupun laptop. Bila “perbuatan” itu Saudari lakukan berulang, suami Saudari tentu pada akhirnya bakal tahu. Ia akan merasa terus-menerus diawasi, tidak dipercayai, dan dianggap telah melakukan selingkuh. Apa akibatnya?

Dari pengalaman memberikan konsultasi, jika masalah tersebut tidak segera dikomunikasikan, kasus semamacam itu rentan menuju ke arah terjadinya perselingkuhan bahkan perceraian. Mengapa? Sebab, pihak istri yang terus-menerus dihantui perasaan khawatir, bahwa suaminya berselingkuh, disadari atau tidak, akan tampak pada perubahan sikap perilaku. Dan, perubahan sikap perilaku tersebut sudah tentu dapat dirasakan oleh suami. Bagi suami yang bijak, ia akan menyelesaikannya secara baik. Tapi sebaliknya, bagi seorang suami yang nakal, tidak jarang memanfaatkan situasi rumah tangga semacam itu sebagai alasan pembenar melakukan perselingkuhan.

Jika Saudari seorang muslim, maka obat pertama yang wajib ditelan adalah obat bermerk “iman”. Ya, keimanan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya sumber untuk segala macam persoalan hidup. Renungkan nasihat Q.S. as-Nisa’ ayat 34 di bawah ini:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”

Dari nasihat di atas, jelas seorang suami adalah pemimpin dalam kehidupan rumah tangga. Maka sudah sepatunya, seorang istri beserta anak-anak dalam kehidupan rumah tangga wajib menempatkan seorang pemimpin sebagai pemegang kemudi. Seorang kemudi kapal tentu saja orang yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang cukup, sehingga dirinya layak dipercaya. Layak dijadikan panutan bagi semua orang, paling tidak dalam kehidupan rumah tangga itu sendiri.

Selain itu, seorang suami diwajibkan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sebab wajib mencari nafkah, tentu saja seorang suami wajib pula memiliki ilmu dan ketrampilan. Kalau tidak memiliki ilmu dan ketrampilan, dirinya akan kesulitan dalam melakukan ikhtiar untuk mencari nafkah. Biduk rumah tangganya akan menjadi cacat, bahkan mungkin saja tenggelam.

Sedangkan bagi seorang istri, dari nasihat tersebut, diwajibkan memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Frase “memelihara” memiliki makna menjaga, maksudnya melindungi segala sesuatu dalam kehidupan rumah tangganya dari berbagai bentuk tindakan dan perbuatan yang bersifat maupun berakibat negatif. Dan, tersebab adanya keseimbangan sikap dan perilaku sebagaimana digariskan oleh Allah SWT tersebut, kemudian Allah memelihara mereka berdua beserta biduk rumah tangganya.

Memang berdasarkan nash Quran di atas, seorang suami ditempatkan sebagai pemimpin bagi rumah tangganya, namun seorang istri pun juga pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya. Dengan kalimat lain, dalam kedudukannya sebagai institusi sosial sebuah rumah tangga dipimpin oleh seorang suami, sedangkan aktifitas sosial dalam kehidupan internal rumah tangga –seperti pengaturan kerumahtanggaan– dipimpin oleh pihak istri. Cermati nasihat Nabi Muhammad Saw, di bawah ini:

“Dari Ibnu Umar r.a. dari Rasulullah bersabda: Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Raja adalah pemimpin, laki-laki pun pemimpin atas keluarganya, dan wanita juga pemimpin bagi rumah tangganya dan anak-anaknya. Maka, kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. (H.R. Bukhari-Muslim)”.

Berpijak dari uraian di atas jelaslah, bagaimana Islam menempatkan kehormatan suami dan istri dalam biduk rumah tangga. Nah, berkait dengan problema yang Saudari tengah hadapi, agaknya sudah saatnya ditempuh langkah-langkah dialog. Langkah-langkah komunikasi yang bertujuan untuk mengurai permasalahan yang timbul sejak suami berpindah tugas ke luar kota. Tidak perlu ada yang ditutup-tutupi dan tidak perlu pula saling mengedepankan egoisme masing-masing. Pada kasus, dalam situasi yang demikian itu masing-masing pihak selalu berkutat dan berdebat memperebutkan kemenangan dalam adu argumentasi tentang dua kata “keharmonisan” dan “kemakmuran” rumah tangga. Wallahu’alam bisawwab.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar